Selasa, 12 April 2011

proposal SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KEPALA DESA MENGENAI ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masyarakat merupakan kumpulan berbagai individu-individu yang tidak lepas dari kepentingan dan tujuan yang berbeda-beda. Kepentingan dan tujuan yang berbeda ini muncul karena latar belakang tersebut berbeda. Perbedaan ini bisa saja terbentuk dengan adanya strata sosial yang sudah terbangun di masyarakat sec ara kuat. Strata sosial ini yang akan menentukan besar kecilnya kebutuhan dan keinginan individu ataupun masyarakat. Untuk mencapai kebutuhan tersebut perlu adanya sebuah tujuan dan target yang jelas.
Manusia adalah makhluk sosial, dimana manusia dialam ini seakan-akan memiliki ketergantungan. Ketergantungan disini menunjukan bahwa manusia saling membutuhkan dengan manusia lain, dengan anggapan bahwa manusia tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, keterkecuali manusia dibantu oleh manusia lainnya. Dengan demikian untuk mencapai segala usaha maka individu-individu tersebut bersatu dan bersepakat untuk menyatakan satu dalam kepentingan dan tujuan. Kepentingan dan tujuan yang sama dari kumpulan individu ini akan sangat mudah untuk mencapainya, karena cara kerja mereka bersama-sama sesuai dengan tanggung jawab dan tugas mereka.
Kepentingan dan tujuan ini terorganisir, sehingga disini ada seorang yang memimpin dalam menjalankan rencana, strategi, ataupun agenda yang lainya dengan anggota kerja yang sesuai ataupun proposional dengan kebutuhan oragnisasi tersebut, dengan harapan segala apa yang direncanakan dan target dapat terlaksana dengan baik.
Kepala Desa merupakan pemimpin yang berada pada ruang lingkup masrayakat di desa dengan hanya satu wIlayah saja. Pemimpin itu merupakan seorang yang bergerak lebih awal, berjalan di depan, mengambil langkah pertama, berbuat paling dulu, mempelopori, mengarahkan pikiran/pendapat/tindakan orang lain, membimbing, menuntun, menggerakkan orang lain melalui pengaruhnya.  Pemimpin sering juga disebut dengan berbagai nama: penghulu, pemuka, pelopor, pengarah, pembimbing, penuntun, dan penggerak.
Pemimpin menurut Lindawati (2001) yaitu Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok.Diharapkan seorang manajer adalah seorang pemimpin, namun seorang pemimpin belum tentu menjadi seorang manajer. Hal itu perlu benar-benar dipahami sehingga tidak begitu saja disamakan antara “pemimpin” dan “manajer”. Dapat saja terjadi seorang manajer berperilaku sebagai seorang pimpinan, asalkan dia mampu mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Namun demikian belum tentu seorang pemimpin juga menjadi seorang manajer sebab seorang manajer melaksanakan fungsinya dalam suatu oraganisasi, yang dibatasi oleh aturan-aturan organisasi, sedangkan seorang pimpinan tidak perlu dibatasi oleh aturan-aturan oragnisasi.
Dari mengenal organisasi, masyarakat harus tahu dalam proses jalan kerjanya untuk mencapai suatu keinginan ( tujuan )  bersama. Adanya sebuah wadah yang mana wadah tersebut di isi oleh kelompok manusia yang lebih dari satu dan adanya suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan. Dimana wadah tersebut, terletak pada sebuah desa tersebut yang di pimpin oleh kepala desa. Organisasi sebuah pengertian yang mana kata organisasi berasal dari bahasa yunani adalah “organon” dan istilah lainnya “organum” yang berarti alat, bagian, anggota atau badan. Menurut James D. Money “organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”. Sedangkan menurut “Chester I Bernard” organisasi adalah sebagai suatu sistem dari pada aktifitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Karena kepemimpinan itu inti dari pada manajemen, sedangkan inti kepemimpinan adalah “human relations”, maka kepemimpinan dapat diberi definisi sebagai berikut: “keseluruhan aktivitas dalam rangka mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang memang diinginkan bersama”. Kepemimpinan yang baik perlu dikembangkan dan dipelihara sebaik-baiknya, karena manajemen yang berhasil bergantung pada adanya kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan dengan antusias (David, 1985). Gibson, et.al. (1982) menerangkan bahwa kepemimpinan adalah konsep yang lebih sempit daripada manajemen. Manajer dalam organisasi formal bertanggung jawab dan dipercaya dalam melaksanakan fungsi manajemen. Pemimpin kadang terdapat pada kelompok informal, sehingga tidak selalu bertanggung jawab atas fungsifungsi manajemen. Seorang manajer yang ingin berhasil maka dituntut untuk memiliki kepemimpinan yang efektif.

1.2 RUMUSAN MASALAH

a)     Apakah yang dimaksud dengan masyarakat, kepala desa, oraganisasi dan kepemimpinan
b)     Bagaimana sikap masyarakat terhadap kepala desa, organisasi, dan kepemimpinan
c)      Bagaimana sikap masyarakat terhadap kepala desa dalam sebuah organisasi dan kepemimpinan
d)     Kendala apa saja yang terjadi kepada kepala desa selamaperjalanan mengenai organisasi dan kepemimpinan

1.3 TUJUAN PENELITIAN

a)     Untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap kinerja kepala desa mengenai sebuah organisasi dan kepemimpinan
b)     Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat menyikapi masalah-masalah yang ada perana kepala desa dalam menjalankan sebuah organisasi dan kepemimpinan
c)      Untuk apa penyebabnya masyarakat harus mengikapi tentang kiinerja kepala desa dalam melakukan sebuah organisasi dan kepemimpinan
d)     Untuk mengetahui bagaimana solusinya masyarakat mengenai kepala desa dalam menjalankan sebuah organisasi dan kepemimpinan

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.     Manfaat bagi instansi

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan dalam memecahkan masalah organisasi dan kepemimpinan.
2.     Manfaat bagi penulis

Untuk menambah wawasan penulis tentang sikap masyarakat terhadap kepala desa mengenai sebuah organisasi dan kepemimpinan.

3.     Manfaat bagi perkembangan ilmu

Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi para pembaca yang berhubungan dengan sikap masyarakat terhadap kepala desa mengenai organisasi dan kepemimpinan.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Masyarakat Sebagai Organisasi

Masyarakat merupakan kumpulan berbagai individu-individu yang berada pada suatu desa. Manusia adalah makhluk sosial, dimana manusia dialam ini seakan-akan memiliki ketergantungan. ketergantungan disini menunjukan bahwa manusia saling membutuhkan dengan manusia lain, dengan anggapan bahwa manusia tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, keterkecuali manusia dibantu oleh manusia lainnya. Dengan itu masyarakat yang ada pada sebuah desa memiliki tujuan dan diarahkan oleh pemimpin untuk memberikan sustu semangat srta dorongan untuk bekerja sama dalam menggapai impian bersama.
2.2  Kepala Desa Sebagai Pemimpin

Kepala desa merupakan sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan dalam mempengaruhi masyarakat di desa. Menurut Robert Roy dalam Siagian, (1991:51) pemimpin adalah orang yang mampu menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan. Dan kepala desa juga sebagai kepemimpinan yang mana kepemimpinan itu mempengaruhi masyarakat ( kelompo individu-individu ) untuk memberi dorongan beraktivitas mencapai tujuan bersama dalamsebuah organisasi . John priffner dalam Miftah Thoha (1994:46) memberikan defenisi kepemimpinan sebagai berikut : “kepemimpinan adalah seni untuk mengkoordinasikan dan memberikan dorongan terhadap individu atau kelompok untuk mencapai tujuan yang di inginkan”. Organisasi merupakan sekelompok manusia ( orang ) yang lebih dari satu dalam suatu wadah dengan satu pemimpin yang bekerja sama dalam melakukan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut “Chester I Bernard” organisasi adalah sebagai suatu sistem dari pada aktifitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Dan kepemimpina adalah seni untuk mempengaruhi tingka laku manusia dalam memiliki kemampuan untuk membimbing agar mereka suka berusaha mencapai tujuan-tujuan kelompok.”

 Ada juga pemimpin organisatorisPemimpin jenis ini mungkin hanya mempunyai pikiran-pikiran yang sederhana dan tidak fasih berbicara.  Tetapi dia pandai menggerakkan orang melalui kecakapan organisatorisnya.  Dia dapat menyusun rencana kerja yang jitu.  Dia dapat mengatur kerja sama yang efisien.  Dia dapat menolong mereka yang ada di bawah pimpinannya mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.  Berkat kecakapan organisatorisnya, pemimpin ini berhasil menyatukan dan menggerakkan orang.  Bahayanya, pemimpin jenis ini dapat menjadi sedemikian sibuk dengan organisasi, administrasi dan hasil kongkrit yang mau dicapai bersama sehingga melupakan faktor manusia dan dimensi yang lebih luas dari tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai.  Pemimpin organisatori perlu didampingi dengan penasihat yang dapat menjadi sumber inspirasi dan yang dapat menunjukkan secara lebih luas dan mendalam segi-segi yang terkandung dalam tujuan dan cita-cita bersama itu.



2.3 GAYA KEPEMIMPINAN ADA PADA PEMIMIPIN

             Agar dapat menjalankan tugasnya setiap pemimpin diberi wewenang atau kekuasaan.  Berdasarkan wewenang itu seorang pemimpin dapat membimbing, mengantar, mengarahkan, menyatukan dan menggerakkan para pengikutnya menuju ke tujuan dan cita-cita bersama.  Perbedaan cara penggunaan wewenang ini menciptakan gaya kepemimpinan yang berlainan.  Pada dasarnya, kita mengenal tiga gaya kepemimpinan: gaya otokratis, liberal,  dan  demokratis.

1.     Gaya kepemimpinan otokratis.  Dalam usaha membawa para pengikutnya ke tujuan dan cita-cita bersama, pemimpin dapat memegang kekuasaan yang ada pada tangannya secara mutlak.  Dalam gaya ini pemimpin bersikap sebagai penguasa dan yang dipimpin sebagai yang dikuasai.  Termasuk dalam gaya ini adalah pemimpin yang:
b.      Mengatakan segala sesuatu yang harus dikerjakan oleh para pengikutnya.  Inilah gaya pemimpin diktator.  Yang dilakukan oleh pemimpin yang mengambil gaya ini hanyalah memberi perintah, aturan, larangan.  Para pengikutnya harus tunduk, taat, melaksanakan tanpa banyak pertanyaan.  Dalam gaya ini, mereka yang dipimpin dibiasakan setia kepada perintah dan dengan tekun menjalankannya.  Gaya kepemimpinan ini hanya baik untuk situasi di mana keadaan betul-betul kritis, di mana keselematan mereka yang dipimpin berada di bawah kekuasaan orang yang memimpin.  Gaya ini hanya baik untuk situasi yang kacau demi pulihnya tata kehidupan yang aman.
  1. Menjual gagasan dan cara kerja kepada kelompok yang dipimpinnya.  Inilah gaya kepemimpinan seorang presiden direktu dalam perusahaan besar.  Menurut gaya ini pemimpin merumuskan masalahnya serta menyodorkan cara pemecahannya sekaligus.  Biasanya, gagasan yang baik dan program kerja yang dirasa menguntungkan akan disambut dengan semangat.  Tetapi kalau gagasan itu dirasa tidak baik dan program kerjanya dapat mendatangkan suatu kerugian, bawahan akan menolaknya.  Seandainya mereka terpaksa harus menerimanya, biasanya mereka akan menjalankannya dengan setengah hati.
2. Gaya kepemimpinan liberal.  Menurut gaya ini, pemimpin tidak merumuskan masalah serta cara pemecahannya.  Dia mebiarkan saja mereka yang dipimpinnya menemukan sendiri masalah yang berhubungan dengan kegiatan bersama dan mencoba menari cara pemecahannya.  Gaya ini bertolak belakang dengan gaya otokratis.  Dalam gaya ini, tugas pemimpin sekedar menjaga agar mereka yang dipimpinnya berbuat sesuatu.  Terserah mereka apa yang mau dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya.  Gaya ini hanya baik untuk kelompok orang yang betul-betul telah dewasa dan benar-benar tahu apa tujuan dan cita-cita bersama yang harus mereka capai.  Gaya ini juga baik untuk kelompok orang yang berkumpul bukan untuk membicarakan hal-hal yang serius, melainkan untuk tujuan bersantai bersama, seperti dalam malam keakraban yang tidak meminta tanggung jawab besar.

3. Gaya kepemimpinan demokratis.  Gaya ini menciptakan suasana yang demokratis.  Dalam gaya ini, pemimpin berusah membawah mereka yang dipimpin menuju ke tujuan dan cita-cita dengan memperlakukan mereka sebagai sejawat yang sejajar.  Di sini, batas pemimpin dan bawahan menjadi kabur.  Di sini, orang diberi tempat yang sederajat.  Termasuk ke dalam gaya kepemimpinan ini adalah pemimpin yang:
a.      Menyajikan masalah serta cara pemecahannya kepada mereka yang dipimpinnya.  Orang yang dipimpin itu bebas untuk menggarapnya: merubah, menambah, menyempurnakan.  Pemimpin sendiri dengan senang hati menerima usula dan saran mereka.  Berdasarkan saran-saran itu, masalah dan cara pemecahannya dirumuskan secara baru.  Apabila semua sudah setuju, pemimpin baru merumuskan masalah dan cara pemecahan itu secara definitif.
  1. Mengajak mereka yang dipimpinnya untuk bersama merumuskan masalah dan cara pemecahannya.  Dalam gaya ini , pemimpin hanya meras bahwa ada masalah dalam kegiatan bersama yang perlu ditangani.  Tetapi dia sendiri belum melihat secara jelas.  Untuk dapat melihat dengan jelas masalahnya dan menemukan cara pemecahan yang jitu, pemimpin mengikutsertakan semua orang yang dipimpinnya.  Dalam pembicaraan bersama itu, dirumuskan bersama apa masalahnya dan bagaimana cara memecahkannya.  Gaya kepemimpinan ini baik untuk kegiatan di kalangan orang-orang yang sudah dewasa yang bersifat permanen lagi mengarah ke tujuan dan cita-cita yang tinggi.

2.4 Organisasi dan kepemimpinan
A. Organisasi
Merupakan sebuah kelompok manusia yang lebih dari satu orang dalam melakukan kerjasama disuatu wadah dalam perdikusian dan pemecahan masalah bersama untuk mencapai tujuan bersama. Disini organisasi sangat berperan penting dalam kehidupan masyakat  yang memiliki solidaritas yang sejahtera pada suatu desa.Suatu organisasi disini memiliki tahapan dalam melakukan suatu kerja yang baik dan bermutu dalam mencapai kesuksesan :
1.     Organisasi sangat penting bagi kepemimpinan yang demokrasi, karena demokrasi merupakan sesuatu yang dilaksanakan secara bersama dalam menyelesaikan suatu masalah dan meraih impian. Penngertian organisasi berasal dari bahasa yunani yaitu “organon” dan istilah latinnya “organum” yang berrti alat, bagian, anggota atau badan. Menurut James D. Money “organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama”, sedangkan menurut Chertes I Bernard “organisasi adalah sebagai suatu sistem dari pada aktivitas kerjasama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

2.     Mengapa butuh Misi, Visi, Core Beliefs, dan Core Values. Pada dasarnya setiap organisasi harus memiliki visi, misi, core beliefs, dan core values. Misi adalah jalan pilihan ( the chosen track ) suatu organisasi untuk menyediakan produk atau jasa bagi costumernya. Perumusan misi adalah suatu usaha untuk menyusun peta perjalanan. Oleh karena itu setiap kemampuan organisasi untuk membuat peta secara akurat menggambarkan dunia yang dimasuki, memberi kesempatan bagi organisasi tersebut untuk menyediakan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan costumernya.
a.      Visi adalah suatu pikiran yang melampui realitas sekarang, sesuatu yang kita ciptakan yang belum pernah ada sebelumnya dan suatu keadaan yang kita wujudkan belum pernah kita alami sebelumnya. Setelah organisasi memiliki jalan yang akan ditempuh mennuju kemasa depan ( misi ). Organisasi tersebut perlu menggambarkan kondisi yang akan diwujudkan dimasa depan dengan suatu visi yang menuntut suatu anggota organisasi untuk mewujudkannya.

b.     Filosofi atau core beliefs adalah kebenaran tentang misi dan kebenaran jalan yang dipilih untuk mewujudkan visi sedangkan core values adalah nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh organisasi dalam perjalanan untuk mewujudkan visi. Misi, visi, core beliefs dan core values memfokuskan kegiatan organisasi, sehingga menjadikan oraganisasi tersebut efektif. Misi, visi, core beliefs dan core values di perlukan organisasi karena lima alasan sebagai berikut : pertama, terjadinnya perubahan atas perubahan itu sendiri, kedua, adanya kecendurungan kembali kedasar, prinsip, atau kealam, ketiga, langka awal dalam strategi manajemen, keempat, pemusatan seeluruh sumber organisasi keperwujudan kondisi yang digambarkan dalam visi, kelima, pengefektivan sistem pengendalian manajemen dengan menggunakan unsur pengendalian kedalam diri.

3.     Organisasi formal dan informal :

a.      Organisasi formal, sebenarnya tidak lain dari pada organisasi statis yang mana suatu sistem kerjasama dilakukan oleh dua orang atau lebih dan dikoodinir dengan sadar untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
b.     Organisasi innformal merupakan kumpulan antara perseorangan tanpa tujuan bersama yang disadari, meskipun pada akhirnya hubungan-hubungan yang tidak disadari itu untuk tujuan bersama. Dalam organisasi formal tiap unsur organisasi mempunyai kedudukan tugas dan fungsi-fungsi yang tegas, sedangkan didalam organisasi informal, kedudukkanya serat dan fungsi tampak kabur.
4.     Proses organisasi

a.      Proses komunikasi
b.     Proses pengambilan keputusan
c.      Proses evaluasi hasil karya
d.     Proses imbalan

5.     Prinsip-prinsip organisasi

a.      Merumuskan tujuan yang jelas
b.     Pembagi kerja
c.      Delegasi kekuasaan
d.     Rentangan kekuasaan
e.      Tingkat kekuasaan
f.      Kesatuan perintah dan tanggung jawab
g.     Koordinasi

B. Kepemimpinan
Pengertian pemimpin menurut Lindawati (2001) yaitu Pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok. Diharapkan seorang manajer adalah seorang pemimpin, namun seorang pemimpin belum tentu menjadi seorang manajer. Hal itu perlu benar-benar dipahami sehingga tidak begitu saja disamakan antara “pemimpin” dan “manajer”. Dapat saja terjadi seorang manajer berperilaku sebagai seorang pimpinan, asalkan dia mampu mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Kata-kata memimpin memiliki banyak persamaan dari kata diantaranya ketua, kepala, direktur, dan kholifah. Maka pemimpin memiliki arti adanya satu orang yang mempengaruhi orang-orang lain agar mereka mahu bekerja kearah pencapaian sasaran tertentu.

1.     Teori kepemimpinan

a.      Teori otokratis kepemimpinan adalah didasarkan atas perintah-perintah pemaksaan dan tindakan agar arbitret dalam hubungan antara pemimpin dengan pihak bawahan. Pemimpin disini cenderung mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pekerja; ia melaksanakan pengawasan ketat mungkin dengan maksud agar pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana.
b.     Teori psikologis merupakan fungsi seorang pemimpin untuk mengembangkan sistem motivasi terbaik dengan cara pemimpin memberi perangsangan kepada bawahannya untuk bekerja kearah pencapaian sasaran-sasaran organisatoris yang mampu untuk memenuhi tujuan-tujuan pribadi mereka.
c.      Teori sosiologis, kepemimpinan terdiri dari usaha-usaha yang melancarkan aktivitas para pemimpin dan berusaha untuk menyelesaikan setiap konflik organisatoris untuk pengikut. Pemimpin menetapkan tujuan dengan mengikut sertakan pengikut dalam pengambilan keputusan terakhir.
d.     Teori suportif, pemimpin menciptakan lingkungan untuk membantu mempertebal keinginan pada setiap pengikut untuk melaksanakan pekerjaan sebaik mungkin dan bekerjasama dengan pihak lain serta mengembangkan skiilnya maupun keinginannya sendiri.
e.      Teori laissez faire, merupakan pemimpin yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada para pengikutnya dalam hal menentukan aktivitas mereka, ( pemimpin tidak partisipasi ). Teori ini kebalikan dari teori otokratis.
f.      Teori perilaku pribadi, pemimpin tidak berkelakuan sama ataupun melakukan tindakan-tindakan dalam suatu yang dihadapinya.
g.     Teori situasi, kepemimpinan menyatakan bahwa harus terdapat cukup banyak fleksibilitas dalam kepemimpinan untuk menyesuaikan diri dari berbagai macam situasi.
2.     Alat kepemimpinan

a.      Hubungan erat dan frekuen dengan manusia
b.     Usahakanlah agar semua pihak yang berkepentingan mendapatkan keterangan-keterngan yang diperlukan.
c.      Usahakanlah agar pekerja menerima perlakuan yang adil, tanpa pilih-bulu, dan penuh pertimbangan.
d.     Ketahuilah apa yang sedang berlansung.
e.      Terimalah tanggungjawab penuh untuk pekerjaan saudara.
f.      Berbicara dengan orang-orang.

3.     Sifat kepemimpinan (menurut Ordwey Teed)

a.      Mempunyai energi, fisik, dan saraf  yang baik.
b.     Mempunyai sifat mengenal tujuan dan arah.
c.      Mempunyai sifat ramah dan efeksi.
d.     Integritas.
e.      Memiliki kemampuan teknis.
f.      Dapat mengambil keputusan
g.     Intelegensi
h.     Memiliki kemampuan untuk mengejar sesuatu.
i.       Miliki kepercayaan penuh.

Sedangkan menurut Edwin H. Schell berpendapat adanya sifat-sifat pribadi tertentu yang membantu kearah sukses dalam bidang kepemimpinan ;
1)     Memiliki perhatian terhadap afeksi untuk manusi
2)     Memiliki kekuatan pribadi dalamvkeyakinan bekerja, dan
3)     Pikiran yang cenderung kearah alamiah, yang apabila tidak ada, akan sangat mengurangi peluang-peluang untuk mencapai sukses.

4.     Fungsi seorang pemimpin

a.      Perencana
b.     Pengorganisasian
c.      Koodinasi
d.     Penggerak
e.      Memimpin
f.      Berkomunikasi, dan
g.     pengawas


















BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Jenis Penelitian

Menggunakan jenis penelitian deksiptif kualitatif

a.     Deskriptif

1.     Deskrisptif adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu. Fraenkel dan Walle, 1990 dalam Yatim Riyanto, 1996. Hal. 47 P. 4
2.     Adalah  pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Whitney 1960 Hal. 63 P. 160
3.     Adalah suatu metode penelitian, status kelompok manusia, suatu subyek atau suatu kondisi suatu system pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Moh Nasir Ph D 1983 Hal.63 P. 2
4.      



b.     Kualitatif

1.     Adalah sebagai bricoleur yang menggunakan alat-alat dari keahlian metodologinya, mengembangkan strategi, metode atau bahan empiris apapun yang tersedia. Denzin dan Linclon, 1994 : 2.  hal 6. P. 8
2.     Adalah suatu bidang antar disiplin, lintas disiplin bahkan kadang-kadang lawan disiplin. Nelson 1994 : 3. hal. 9 P. 5
3.     Adalah berbasis pada konsep “going exploring” yang melibatkan indepth and caseoriented study atas sejumlah kasus atau kasus tunggal (Finlay 2006) Gioia, D.A and E. Pitre.1990 14, 4; pp. 584602


3.2  Tempat dan Waktu penelitian

Untuk sementara penentuan lokasi yang akan diteliti secara sengaja dengan mengambil tempat penelitian di Desa Tologo Suryo di Kecamatan Lowokworu Kabupaten Malang. Dengan memperhatikan ruang lingkup da tujuan penelitian, maka waktu yang dibutuh dalam melaksansanakan penelitian ini untuk sementara 3 bulan.




3.3  Pengumpulan Data

3.3.1       Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, saya melakukan pengumpulkan data dilakukan dengan beberapa metode sesuai dengan data yuang dibutuhkan. Metode tersebut adalah sebagai berikut :

a.     Kuesioner

Yaitu tenik pengumpulan data dengan menyebarkan daftar pertanyaan terstruktur lansung kelokasi penelitian. Metode ini saya gunakan untuk mendapatkan informasi mengenai persepsi responden terhadap kerja kepala desa.

b.     Metode Pengamatan

Yaitu tenik pengumpulan data yang dengan cara mengadakan pengamatan lansung ke lokasi penelitian. Metode ini digunakan untuk memperoleh informasi tentang lokasi penelitian secara lansung dengan turun kelapangan.


c.      Wawancara

Yaitu tenik pengumpulan data yang dengan cara mengadakan wawancara lansung  dengan pimpinan instansi, atau orang-orang yang berkompeten dan diyakini mampu memberi informasi yang akurat.


d.     Kajian pustaka

Yaitu tenik pengumpulan data dengan cara melihat atau mengumpulkan informasi yang sudah dikumpulkan oleh pihak lain dan tenik ini digunakan untuk memudahka memperoleh data pelengkap yang berkaitan obyek penelitian

3.3.2       Sumber Data

Ada pun sumber data dalam penelitian
a.     Sumber internal
Data yang dikumpulkan dari instansi desa tolosuryo kecamatan lowok woru kabupaten malang.
b.     Sumber eksternal
Data yang berasal dari kantor, lembaga atau instansi lain yang mempunyai relevansi dengan topic penelitian.
3.4  teknik penuntasan responden

1.     Dalam penelitian ini menggunakan Populasi Dan Sampel
a.     Populasi
Populasi adalah kepala desa beserta wakil  dan anggota BPD sebanyak 8 orang karena jumlah populasi sedikit maka maka penelitian ini adalah penelitian populasi yaitu seluruh populasi dijadikan sampel
Populasi menurut sudjana 1987 dalam buku metode statistika dikatan populasi adalah semua nilai yang mungkin, hasil menghitung atau mengukur. Sedangkan Menurut sastroasmoro dan ismail 1995 merupakan yang memenuhi sampling kriteria dan dan menjadi sasaran akhir penelitian.
Jadi menurut saya populasi merupakan suatu sistematis secara keseluruhan subjec yang akan diteliti baik itu berupa manusia, hewan,tumbuhan dll.
b.     Sampel
Menurut Hungler  1993 sampel adalah terdiri dari bagian yang terjangkau yang dapat digukan subjec penelitian
Sampel adalah unit terkecil anggota populasi yang menjadi sumber data yang yang sesuai dengan karatetistik populasi teorities yang sebagaimana yang telah ditetapkan  Woodworth Robert 1967
Jadi sampel dimana bagian populasi secara keseluruhan yang kemudian diambil sebagian populasitersebut yang berguna untuk mewakiliki seluruh populasi yang ada untuk diteliti.
2.      Variabel Dan Indikator Penelitian
a.     Variable
Menurut soeparto tata putra dan haryanto 2000 variabel prilaku atau karatestik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu benda.
Menurut rafii 1985 variabel ialah karatestik subjec peneliti yang berubah dari suatu subjec kesubjec yang lain Dr suryani As,Ad.
Jadi variabel itu suatu karatestik yang diambil untuk memberikan suatu gambaran nilai jumlah dari antara variabel kevariabe l yang sederetan yang nilainya kuantitatif,kualitatif.
b.     Indicator
Indikator menurut Ibnu hadjar 1999 indikator adalah variabel yang mengindikasiakan kecendrungan situasi untuk mengukur perubahan.
            Menurut Wilson sebagai alat atau petunjuk untuk mengukur prestasi kegiatan.
Kesimpulan menurut saya indikator adalah sebuah keterkaitan dari variabel untuk mengetahui dan mengidentifikasi kecendrungan yang ada untuk sebuah peristiwea atau gejala yang akan ditempatkan untuk peneliti.
a. Variabel bebas (independent variabel) yang merupakan variabel bebas dalam penelitian ini adalah partisipasi masyarakata, kepemimpinan.
b. Variabel terikat dependent variabel. Yang merupakan variabel terikat adalah penbangunan sebuah desa

3.5  definisi opersional variable

a.     Masyarakat Sebagai Organisasi
b.     Kepala Desa Sebagai Pemimpin
c.      Gaya Kepemimpinan ada pada Pemimipin

3.6  metode analisa data

Menggunakan tenik anlisis statistik.







BAB IIII
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1  Kesimpulan

Dari kesimpulan, kita bisa member sebuah motivasi kepada pembaca dan penulis pada yang ingin meneliti tentang suatu apa yang ingin diteliti. Agar kita dapat menyimpulkan suatu kesalaha dari penelitian.

4.2  Saran

Saran merupakan motivasi dari semua, yang telah membaca dan meneliti dari apa yang kita kaji tersebut tidak lengkap dan ada kesalahan. Maka dengan saranlah dapat memperbaiki yang salah.








DAFTAR PUSTAKA :
 Denzin dan Linclon, 1994 : 2.  hal 6. P. 8. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial ( oleh Agus Salim ) PT Tiara Wacana Yogya ( Kopen-Banten no 16 ) : http:// www.tiarawacana,.co.id : email :  tiara_wacana@telkom.net  2001
Nelson 1994 : 3. hal. 9 P. 5. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial ( oleh Agus Salim ) PT Tiara Wacana Yogya ( Kopen-Banten no 16 ) http:// www.tiarawacana,.co.id : email : tiara_wacana@telkom.net  2001
Gioia, D.A and E. Pitre.1990 14, 4; pp. 584602. Landasan Filsafat dan Metode Penelitian Kualitatif ( Oleh Anis Chariri  Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro )  PT. Bintang ( Semarang ) 2009
Written by Arief Furchan  Tuesday, 27 October 2009 20:14 TENTANG KEPEMIMPINAN
(Heim dan Chapman, 1991:4).Belajar Memimpin.Binarupa Aksara – Jakarta.
Kartono Kartini. 1986. Pemimpin dan Kepemimpinan. CV. Rajawali Press. Jakarta
Moekijat, 1984, Prinsif-Prinsif Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan, Alumni, Bandung
Singaribun,Masri, Effendi, Sofyan,1995, Metode Penelitian Survey ,LP3S, Jakarta
Dajan, Anto. (1995). Pengantar Metode Statistik Jilid I. Jakarta: LP3S.
Creswell, John. (1994). Research Design Quantitative and Qualitative Approaches. : Thousand Oaks: Sage Publication
Nazir, Moh. (1985). Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Karlinger fred N :ibid  Hal. 84 P. 41.Prosedur Penelitian ( Suatu pendekatan Praktek ) oleh Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. PT Rineka Cipta, Jakarta  1998






TUGAS
PRAK METODE PENELITIAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
PROPOSAL SKIRIPSI
SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KEPALA DESA MENGENAI ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN


DISUSUN OLEH
NAMA             : SUHARDI
  NIM                 : 2008210029




FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGGADEWI
MALANG
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar